Wah, ada tempat nulis cerita, ya?
Wa juga ada cerita:
(Cerita ini hanya fiktif belaka, segala kesamaan nama tokoh dan tempat adalah hal yang tidak disengaja)
“Maaf, Bapak masih tidak bisa menyanggupi permintaanmu, Nak,” kata Pak Kepala Sekolah Alvin.
“Tapi, Pak,” bantah Drevin, siswa kelas 2 SMP itu, “kalau begini terus sekolah kita bisa….”
“Hancur?” Pak Alvin memastikan potongan kata dari kalimat Drevin, “Sepertinya memang begitu dan Bapak sudah bersiap untuk itu.”
“Bagaimana dengan impian kakak saya? Apa mau terkubur begitu saja bersama jasadnya? Bapak tahu bagaimana pengorbanan kakak saya? Apa Bapak pikir kakak saya senang dengan keadaan sekolah kita yang hancur ini? Perlu Bapak ingat, ini bukan hanya sekolah milik Bapak, kami belajar di sini, meskipun itu cuman saya dan kakak saya!” Amarah Drevin sudah memuncak. Sebenarnya ia sangat prihatin dengan sekolahnya yang kini tinggal menuju kehancuran. Seluruh murid, siswa dan siswa, tidak ada yang minat belajar di sana. Padahal dua tahun yang lalu, kakak Drevin pernah membawa SMP mereka itu sampai ke final pada pertandingan cerdas cermat yang hadiahnya sanggup memperbaiki seluruh sekolah mereka.
“Bapak mengerti, tapi apa mungkin kamu bisa dua orang lagi untuk cerdas cermat yang tinggal 3 hari lagi? Kalau kamu bisa, bapak akan mengerahkan apapun yang bisa bapak lakukan untuk mengantar kalian ke tempat pertandingan,” ujar Pak Alvin.
“Baiklah, dua orang,” kata Drevin, “dan transportasi dari Bapak.” Pak Alvin mengangguk diikuti langkah Drevin yang keluar dari ruangannya. Pintu penuh gravity itu pun kembali menjadi pemandangan satu-satunya.
Drevin kini beranjak ke gudang sekolah. Markas geng sekolah mereka yang dipimpin oleh seorang anak cewek, Katrina Nafrayra. Ia adalah siswi paling terkenal satu sekolah, sekolah mereka yang tak punya guru meski daftar nama gurunya terpampang di lobby. Satu-satunya guru yang datang adalah Pak Alvin, kepala sekolah mereka.
“Aku ingin berbicara dengan Katrina,” ujar Drevin lantang dengan dua orang siswa yang berdiri di depan.
“Tidak ada yang boleh masuk ke mari tanpa izin Kak Katrina,” tukas salah seorang siswa berambut Mohawk hijau.
“Katakan padanya Drevin Xenoar ingin bertemu dengannya,” jelas Drevin.
“Xenoar, ada huruf X di namanya,” gumam siswa berambut Mohawk hijau itu.
“Jadi bagaimana?” tanya temannya yang rambutnya bercat ungu terurai panjang ke sebelah kiri, bahkan menutupi bola mata kirinya. Si hijau itu hanya memutar kepalanya ke pintu dan akhirnya si ungu pun masuk.
Suara pembicaraan mereka terdengar samar-samar dari luar. “Kak Katrina, Drevin Xenoar ingin bertemu dengan Anda,” kata si ungu sambil menunduk, ia duduk setengah jongkok sebelum berbicara.
“Cih, bawa dia kemari dan ingat, jangan ada yang masuk selain dia!! Mengerti?” tanya Katrina.
“Mengerti, Kak,” jawab si ungu lalu berdiri dan berjalan mundur keluar ruangan, masih dengan kepala menunduk.
Setelah diberi tahu, Drevin pun masuk ke ruangan penuh asap rokok itu dan mulai berkata pada Katrina, “Katrina, masih ingat impian kita? Kejuaraan cerdas cermat? Aku membutuhkanmu, 3 hari lagi ada kejuaraan cerdas cermat….”
“Jadi itu?” potong Katrina, “Jadi itu tujuanmu ke mari? Yang benar saja….”
“Jadi kamu mau ikut?”
“Mau tahu jawabanku?” tanya Katrina. “Cuih!!!” ia pun meludah ke dinding di sebelah kanan dirinya. “Kenapa kamu tidak bawa saja dua orang di pintu itu?”
“Jadi kamu tidak mau berjuang untuk kakakku? Reyd Xenoar….”
“DIAAM!!!” potong Katrina sambil membuang rokok di tangannya lalu menepuk mejanya. “JANGAN SEBUT NAMA ITU DI DEPANKU!!!” Katrina berteriak membentak-bentak hingga si hijau dan si ungu masuk ke ruangan itu.
“Kamu! Kamu telah menggangu Kak Katrina,” bentak si ungu.
“Keluar sekarang!!” bentak si hijau sambil menarik Drevin keluar ruangan. Tapi tubuh Drevin begitu besar dan kuat, mereka berdua sulit untuk menyekapnya.
Drevin menolak si ungu dan si hijau dan seketika mereka berdua terjatuh, “Katrina… dia sangat memuji kemapuan sainsmu yang luar biasa dari SD. Fisika maupun biologi, aku pun mengakuimu. Tiga hari lagi di pohon besar depan sekolah, aku akan terus menunggumu.”
Drevin pun pulang dengan hampa, ia masuk ke rumahnya yang hanya berukuran tiga kali dua meter. Sebelumnya ia hidup hanya berdua dengan kakaknya karena orang tua mereka sudah lama meninggal. Kini ia harus tinggal sendiri. Menjual koran dengan sepeda ayahnya, meneruskan pekerjaan kakaknya yang meninggal saat kecelakaan tepat sebelum pertandingan final cerdas cermat sekolahnya.
Hari terus berlalu hingga tiba satu hari sebelum cerdas cermat. Katrina berjalan melewati perpustakaan sekolah mereka yang lemarinya sudah dibolak-balikkan, buku-bukunya ditumpukkan menjadi gunung untuk api unggun yang tak pernah jadi. Tapi suatu pemandangan tak terduga ia lihat, seorang anak duduk di atas tumpukan buku itu dan membaca salah satu buku di sana. Matematika. Dan anak itu tidak lain adalah Drevin. Ia sibuk mencorat-coret buku itu, mengerjakan tiap-tiap soal di dalamnya. Buku-buku fisika dan biologi kini seakan menatapnya. Katrina diam, ia tidak tahu harus berkata apa.
Tiba di rumah, Katrina masuk ke kamarnya yang keadaannya tidak jauh berbeda dengan rumah Drevin, berdindingkan papan kayu. Tapi justru papan kayu itu ia manfaatkan sebagai sumber ingatannya. Ia mengambar dengan silet di sana. Susunan tata surya, teori-teori rangkaian listrik, induksi elektromagnet, serta organ-organ tubuh makhluk hidup, gambar sel, aliran darah, pernapasan, dan masih banyak yang lainnya. Satu per satu ia raba papan itu. Gambar-gambar penuh kenangan itu perlahan-lahan ia elus. Matanya mulai berkaca-kaca dan gerakan tangan berhenti saat membentur sebuah lemari tua. Ia membukanya, penuh dengan buku-buku sains, khususnya fisika dan biologi. Dirangkulnya buku-buku itu, ia terduduk di lantai kayu kamarnya. Bersama air matanya, hening meliputi kamarnya.
Hari ini adalah hari kejuaraan cerdas cermat yang telah dinanti-nanti Drevin. Namun ia masih sendirian, duduk termenung di bawah ribunan daun pohon terbesar di SMP mereka. “Mau rokok?” tiba-tiba saja Katrina sudah disebelahnya menawarkan sekotak rokok padanya.
“Tidak,” jawab Drevin lantang.
“Kalau begitu aku juga,” kata Katrina sambil membanting kotak rokok itu dan menginjaknya keras, “tapi kita masih kurang satu orang lagi.”
“Katrina, kamu?”
Katrina mengangguk, “Satu orang lagi, setidaknya bisa menekan tombol dengan cepat, itu sudah cukup.”
Duk! Duk! Duk! Terdengar suara ketukan meja berirama dari seorang siswa SMP itu yang terlihat dirinya terkena tekanan mental.
“Pucuk dicinta, ulam pun tiba,” ucap Drevin. Lalu mereka berdua menarik siswa bernama Luigi itu ke kepala sekolah. Pak Alvin memiliki sebuah mobil tua dan mereka mengunakannya untuk ke tempat pertandingan.
Tak sia-sia Luigi diposisikan di tengah, cukup dengan instruksi yang hanya sekali, dengan cepat ia langsung menekan tombol begitu soal selesai dibacakan. Dan dengan sigapnya kedua temannya membabat habis seluruh pertanyaan. Luigi hanya mendengar suara-suara seperti 26,5 Newton, tujuh belas pangkat delapan, James Clerk Maxwell, Hydra viridis, flame cell, hingga akhirnya kemenangan pertama mereka pun tiba.
Hari-hari penuh kemenangan pun mereka lewati hingga akhirnya tiba pertandingan final. “Ayolah, Drevin… kamu di mana?” tanya Katrina menggerutu. Drevin tidak terlihat sejak pagi mereka menunggu di sekolah. Katrina masih tidak tenang. Ia sibuk mondar-mandir. “Jangan sampai kamu…”
“Maaf semuanya,” Drevin tiba-tiba saja datang dengan sepedanya, “tadi korannya lebih banyak yang harus kuantar jadi aku….”
Drevin tidak menyelesaikan kata-katanya begitu melihat air mata Katrina mengalir membasahi pipinya.
“Katrina, kenapa menangis?” tanya Luigi.
“Tidak, aku tidak menangis,” jawab Katrina sambil menghapus air matanya, “aku hanya kelilipan. Ayo kita berangkat.”
Tidak seperti pertandingan-pertandingan sebelumnya, mereka pergi sendiri. Kali ini seluruh anak buah geng Katrina ikut menyertai mereka. Arak-arakan mereka berangkat membawa spanduk dan bendera masih tetap bertuliskan tulisan dengan cat semprot mereka.
Tiga sekolah terpilih untuk bertanding di final. Namun hanya dua sekolah yang terlihat unggul, sekolah mereka dan sekolah favorit terkenal berisikan anak-anak pejabat dan orang-orang kaya. Setiap kali mereka berhasil menjawab satu pertanyaan, seluruh anak buah geng Katrina langsung bersorak-sorai, berteriak, mengibarkan benderanya, meski satu kata pun yang mereka mengerti dari jawaban bos gengnya. Namun sekolah favorit itu begitu sulit untuk dikalahkan. Mereka juga cukup banyak menjawab pertanyaan dan akhirnya nilai mereka berdua pun sama.
“Karena ada dua sekolah yang memiliki nilai sama, kami dari dewan juri memutuskan untuk memberi satu pertanyaan tambahan. Jika di antara kedua sekolah ada yang bisa menjawab pertanyaan ini, maka itulah pemenangnya. Pertanyaan tambahan akan diganti jika tidak bisa dijawab oleh kedua sekolah,” jelas seorang wanita yang dari tadi membacakan soal untuk mereka.
Seluruhnya menjadi hening seketika, tak ada yang bersuara. Bahkan angin berhenti berhembus kencang di lapangan itu. Seluruh mata tertuju pada wanita pembaca soal dan kedua sekolah itu.
“Baiklah, kita mulai. Sebutkan seluruh unsur yang terdapat pada periode ketiga dalam SPU!” ujar wanita itu.
“APA???” batin Katrina, ia tidak tahu tentang unsur-unsur kimia. Habislah sudah, batinya. Ia dan Drevin menutup mata. Tak sanggup menerima kekalahan mereka.
Teeet! Suara bel terdengar, detik-detik kekalahan mereka dimulai.
“Iya, kelompok biru!” seru wanita itu.
“Natrium, Magnesium, Aluminium, Silikon, Fosforus, Sulfur, Klorin, dan Argon,” jawaban itu terlantunkan, tapi ntah mengapa Katrina merasa jawaban itu berasal dari orang di dekatnya.
“Benar!!” seru wanita itu.
Katrina membuka matanya, ia melihat lampu biru di mejanya. Ia tidak menyadari kalau tim biru adalah timnya. Dan jawaban itu sendiri berasal dari Luigi. Orang yang selama ini mereka anggap mengalami keterbelakangan mental mahal membawa kemenangan sekolah mereka. Para brandalan itu turun kelapangan mengangkat tubuh Luigi yang kurus. Mereka membawanya keliling lapangan. Bersorak-sorai, bendera ikut dikibarkan. Katrina hanya tersenyum manis pada Drevin, senyum yang tak pernah ia tunjukkan selama dalam geng.
“Terima kasih,” ujar Drevin.
“Tidak, akulah seharusnya berterima kasih. Tanpa ajakanmu itu, mungkin sekarang aku sudah hancur,” kata Katrina.
“Tapi itu hanya ada dalam pikiranmu saja,” kata Drevin.
“Kau benar.”
Waktu terus berjalan bersama perubahan sekolah mereka. Geng Katrina kini jadi kelompok belajar. Ia sendiri tetap menjadi pemimpinnya. Guru-guru mulai mengajar di sekolah mereka. Alumni-alumni tak lagi hanya menjadi preman pasar. Mereka mulai ke SMA-SMA favorit dengan beasiswa, bahkan sampai ke luar negeri. Sekolah mereka kini terkenal karena terus menciptakan generasi-genarasi muda yang hebat. Tak lupa, foto wajah pahlawan sekolah mereka, Luigi, terpajang besar di lobby sekolah mereka.
(Mohon maaf kalau ceritanya masih berbau anak SMA, muha! Kalau mau kisah nyata tentang masa-masa tak terlupakan di SMP silahkan klik link di signature saya. Terima kasih, muha!)
_________________
SMP bisa lebih seru dari SMA, lhoo....
http://rifatila.wordpress.com
|